SENGSARA  membawa nikmat. Itulah pepatah yang diyakini mendatangkan keberuntungan bagi Wakil Bupati Badung Drs. I Ketut Sudikerta. Keuletan lelaki kelahiran Pecatu, 29 Agustus 1967, ini menjadi modal menepis semua hambatan dalam meraih kesuksesan di segala bidang,  termasuk mendapatkan pujaan hatinya, Ida Ayu Ketut Sri Sumiatini. Kebersamaannya sebagai pengurus senat dan resimen mahasiswa di Universitas Warwadewa, menjadikan kedua sejoli ini kerap melakukan aktivitas bersama.  Ketua DPD Golkar Provinsi Bali ini  tak banyak mengobral kata cinta. Ia lebih suka menunjukkan perhatian yang besar  kepada Dayu Sri, sapaan akrab perempuan kelahiran Tabanan, 6 Juni 1966 ini. Bunga mawar merah menjadi andalan Sudikerta dalam mendekati perempuan yang pernah bercita-cita menjadi polwan ini.

Menurut lelaki yang juga berprofesi sebagai enterpreneur ini,  awal mula hubungannya dengan  Dayu  Sri sebatas teman biasa. Bahkan, kata Sudikerta, ia sempat kesengsem pada salah seorang teman Dayu. Dayu sebagai makcomblangnya. “Lewat Dayu saya sempat titipkan salam kepada salah seorang gadis yang mencuri perhatian saya itu,” ungkap Sudikerta sambil tertawa.

Namun, kebersamaan Sudikerta dan Dayu dalam resimen dan pengurus senat mahasiswa membuat pertemuan kedua sejoli lebih mendekatkan satu sama lain. Begitu dekatnya, sehingga Sudikerta sangat mengenal kepribadian Dayu Sri. Lambat laun perasaan Sudikerta mulai berubah. “Saya  mulai mencoba mengenal Dayu lebih dekat. Selain cantik dan berkulit putih, dia juga  cerdas,” katanya sembari tersenyum memuji istrinya itu.

Tampaknya perasaan Dayu Sri juga sama. Putri ke-4 dari 8 bersaudara kandung ini diam-diam juga menyukai lelaki berkumis tipis itu. Mengingat sama-sama malu, perasaan mereka hanya terpendam di hati masing-masing. Namun, sehari-hari, kata Sudikerta, ia menunjukkan perhatian lebih pada Dayu. Bahkan, ia tak segan-segan memberi Dayu hadiah sekuntum bunga mawar merah. Kejutan itu kadang ditunjukkan di depan teman-temannya di kampus. Karuan saja, perilaku dirinya itu diolok-olok teman-temannya.

Ia mengungkapkan perjuangan mendapatkan hati Dayu Sri bukan hal yang mudah. “Penuh perjuangan karena Ibu banyak yang naksir,” ungkapnya sembari tertawa.  Namun, kegigihan Sudikerta memikat hatinya dengan berbagai kejutan  membuat hati Dayu luluh. Untung saja, katanya, orangtua Dayu   Sri sangat demokratis. “Yang penting saya sudah bekerja dan bisa membahagiakannya,” pesan beliau.

Saat Sudikerta mulai menjalin hubungan dengan Dayu Sri, selain sebagai mahasiswa, ia juga menjadi free lance guide untuk membiayai kuliahnya. Keuletannya sudah ditempa sejak kecil. “Penderitaan yang saya  alami telah menumbuhkan jiwa dan semangat  keberanian, tanggung jawab, disiplin,  dan kerja keras dalam diri saya. Tiap hambatan menjadi tantangan dalam hidup saya untuk ditaklukkan,” tuturnya tentang masa kecilnya.

Pedagang Acung
Ia menuturkan, dirinya berasal dari keluarga sederhana. Bahkan ia mengaku kehidupan keluarganya morat-marit.  Hidup di wilayah perbukitan yang tandus, keluarganya sangat tergantung pada hasil perkebunan  dan peternakan.

Saat masih SD, ia harus kehilangan ibu tercinta. “Belum sempat saya mengenyam kasih sayang seutuhnya, Ibu sudah pergi meninggalkan kami,” katanya dengan nada pelan. Tampak matanya  berkaca-kaca mengingat kenangan waktu kecilnya.

Namun, ia mengaku bangga karena dapat menamatkan pendidikan dasarnya di tanah kelahirannya itu. Melihat kondisi wilayah tandus dan kemampuan keluarga yang tidak  memadai, Sudikerta memutuskan  pergi ke Kuta.  “Waktu itu turis asing booming di Kuta. Saya mencoba mengadu nasib di sana,” katanya. Untuk melanjutkan sekolah ke SMP Sunari Loka,  ia rela menjadi pedagang acung. “Kalau jadwal sekolahnya pagi, saya berjualan sore hari. Kalau masuk siang, jualannya pagi. Waktu itu saya dapat Rp 500.000 sebulan. Zaman itu uang sebanyak itu sangat besar sekali artinya. Saya tambah semangat bekerja,” ujarnya.

Banyak manfaat yang ia dapatkan sebagai pedagang acung. Selain untuk biaya hidup, Sudikerta dapat berlatih berbahasa Inggris.  Melihat teman-temannya naik  sepeda gayung, ia termotivasi untuk bekerja lebih giat. Setelah tabungannya cukup, ia berhasil membeli sepeda. Ada suatu kebanggaan baginya karena ia mampu mendapatkan apa yang ia inginkan dengan hasil keringatnya sendiri. Tiga tahun menjadi pedagang acung sangat berarti baginya. Ia berhasil tamat sekolah dengan nilai yang bagus dan  menguasai bahasa Inggris.

Kernet Bemo
Tamat SMP, ia melanjutkan ke SMA PGRI 4  Denpasar. Untuk biaya hidup dan sekolahnya, ia bekerja sambil lalu di perusahaan biro perjalanan. Dia rela bekerja rangkap di bidang cleaning service dan ekspedisi. Untuk menambah uang saku, ia menjadi  kernet bemo Denpasar-Sanur p.p. Kadang  timbul perasaan  malu karena ada teman sekolahnya yang menumpang bemo yang ia kerneti. “Kekerasan hidup yang saya lakoni memberi semangat untuk tetap berjuang dan melupakan sejenak rasa malu saya,” ujar Sudikerta.

Setelah ia berhasil melalui semua hambatan dan menuntaskan pendidikan SMA-nya, Sudikerta mencoba mengais rezeki sebagai free lance guide. Untuk lebih memantapkan wawasan dan keterampilannya ia melanjutkan studinya ke Universitas Warwadewa. Awalnya, ia mendaftar ke Fakultas Teknik. Namun, ia merasa lebih sreg di jurusan  Sastra Inggris. “Sesuai dengan pekerjaan yang saya lakoni sebagai guide Inggris,” katanya.